
Di luar hujan sangat deras sekali, awan gelap mendung menerkam bangun ku pagi ini.
Gelegar petir ingatan menyambar,
sesaat,
aku tenggelam.
Saat aku ingin membuka mata,
mengumpulkan nyawa,
mengkontruksikan jiwa,
mengkomposisikan hati yang terluka,
lalu menutup telinga tanpa cahaya juga suara.
Aku merindunya.
Dalam hati, coba ku katakan dengan jujur dan hancur.
Sangat hancur!
Aku masih merindunya, entah mengapa?
Dia,
atlet yang tak lelah berlari dari jejak tambatan dalam hati ku abadi tertinggal.
Dia,
setan cantik yang tak mau hilang di dalam pengelihatan ruang ingatan sesal.
Dia,
wajah semok yang tak mau pergi dari pikiran semu ku.
Dia,
malaikat jahat yang melekat pekat di benak kelam ku,
yang mulai melayang membiru lalu abu-abu.
Menuju bekas luka mengangga di sepatumu yang merah merona.
Memudar putih bayangan tapak kaki mu yang tertelan kabut suram hati yang berdarah.
Aku pucat pasii, resah.
Gelisah,
gundah,
menikam, merobek-robek ragu.
Dalam hitamku, kelam tersimpan sebuah dendam yang tak mau berlalu.
Maafkan aku kawan.
Hari ini aku tak akan datang.
SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.
SEMOGA BAHAGIA SELALU.
Kan terus aku coba untuk biarkan yang telah berlalu.
Dan berusaha terus menatap kedepan dalam konteks kenyataan yang baru.
Sometimes, we must get hurts to be save.
Ironic.
*let someone have his head
No comments:
Post a Comment