Friday, October 15, 2010

Tiang (from notes my facebook)

Malam-malam saya mencari rokok. Keluar rumah dan berpapasan dengan hansip komplek. 'Dimana warung yg buka jam segini ?' Hansip tak menjawab dan aku terus berjalan, hingga di ujung gang. Tak ada warung, tak ada orang, hanya tiang listrik beku dan lampu terang. Apa yang kau cari anak muda? Rokok, jawabku. Apa kau tak lelah berdiri disitu memegangi lampu? Tanyaku pada si tiang listrik. Apa yang kau terangi? Tak ada orang disini. Matikan lampumu, berbaringlah. Kataku pada si tiang lampu. Jika aku tertidur, tak cuma jalanan ini yang gelap, tapi satu kampung ini akan kehilangan terang. AC mati, dan anak2 tidur kepanasan. Ah, tugasmu sungguh mulia tiang. Apa yang kau dapatkan dari keteguhanmu ini ? Tanyaku. Tak ada-tak ada, hanya air kencing hewan. Lalu muntahan pemabuk. Air cucian piring tukang bakso. Dan kau tahu yang terkadang menyakitkan ? Hansip datang dengan tongkatnya dan memukuliku!
Tang! Tang! Tang! Entah apa salahku, hansip memukuliku setiap jam, sepanjang malam, hingga berkumandang adzan. Tiang listrik dengan lampu jalan di ujung gang. Namamu sungguh panjang ya? Gumamku. Kedinginan sepanjang malam, kepanasan sepanjang siang. Sudah berapa lama kau berdiri sendiri disini? Bertahun-tahun. Lampuku telah ratusan kali diganti. Presiden telah berganti 3 kali. Kau tau presiden sudah berganti ? Ya ! Mrk menempelkan wajah orang-orang ditubuhku. Dari pemilihan Kepala daerah hingga Presiden. Jika tak musim pemilihan, orang-orang datang kemari memasang iklan, dari badut sampai bor WC, hingga pengasuh anak berijasah. Terkadang aku iseng menelpon nomer nomer yang terpasang ditubuhku itu. Si badut tertawa-tawa mengangkat telponku, saat kusebut aku tiang, ia pingsan. Lalu kutelpon penyedot WC, orangnya datang kemari dan memaki-makiku, katanya aku tak punya wc, aku buang hajat diselokan mampet dibelakangku. Lalu aku telpon pengasuh anak berijasah itu, katanya ia sedang menganggur, tak ada anak yg bisa ia asuh. Ia kesepian lalu dtg menemuiku. Si pengasuh itu cantik, ia datang dengan seragam susternya, kami mengobrol apa saja sepanjang malam. Sejak kehadiran si pengasuh itu, aku berusaha agar lampuku menyala lebih terang, aku ingin melihat wajahnya yang cantik dan tulus, menerangi jalannya pulang. Biasanya sebelum adzan subuh dia pamit pulang. Kau tahu, ia selalu berdiri ditempatmu sekarang berdiri anak muda! Aku rindu padanya.
Kalau kau rindu, kenapa kau tak menelponnya ? Tanyaku. Tiang tak menjawab. Kau tak ada pulsa ? Tiang hanya diam. Lampunya meredup. Aku pernah menelponnya lagi, dan mendengar suara anak kecil menangis di seberang sana. Kupikir dia sudah dapat pekerjaan, tak sempat kemari. Aku menelponnya lagi, tapi tak berkata apa-apa, ia berkata halo dan aku masih mendengar suara bayi menangis kencang. Aku menelpon terus dan terus mendengar suara bayi menangis. Menangis dan menangis. Tapi kemudian aku teringat sesuatu, aku menelpon lagi. Kudengar baik-baik, dan aku tahu, itu bukan tangisan bayi, tapi tangis pelan si pengasuh. Kenapa kau menangis sayang? Tak ada jawaban. Lalu aku menelponnya lagi, tapi telponku tak pernah ia angkat. Telpon lagi, tak ada jawaban lagi. Telpon lagi, hanya kotak suara. Lalu lampuku mati. Dingin dan gelap kembali menghantui diriku. Tapi tak akan kulupa datangnya hari itu. Malam itu sesosok bayangan datang mendekat dan berdiri ditempatmu berdiri sekarang. Seorang perempuan. Ia berpakaian minim dgn bibir berasap. Aku tak mengenalinya. Ia tak berbicara. Jadi aku diam saja. Setiap malam ia datang kemari, berdiri ditempatmu berdiri itu.
Lalu suatu siang warga datang mengganti lampuku yang mati, aku bersorak gembira, karena malamnya, dengan lampu aku bisa melihat wajah tamuku. Betapa terkejutnya aku ketika malam harinya dia datang. Aku tak lupa dengan wajahnya, cara berdirinya walau ia tak memakai seragamnya lagi. Itu si pengasuh bayi. Ia berdiri didekatku seperti dulu. Tapi kali ini menjajakan diri.. Engkaukah itu ? Kenapa kau berubah seperti ini ? Tidak adakah lagi bayi, anak-anak yg bisa kau asuh ? Si pengasuh menatapku, dia bilang; ada, ada anak yg harus aku asuh sepanjang hidupku, bukan anak majikan, tapi anakku sendiri ! Kau ? Kau memiliki anak ? Lalu kenapa kau menjajakan diri ? Tidakkah suamimu akan membiayai hidupmu dan anakmu itu ? Si pengasuh menatapku, kau tanyakan itu pada hansip yang memperkosaku pada pagi hari itu sepulang dari aku menemuimu disini. Si hansip tak bertanggungjawab. Si hansip yg kutemui tadi memperkosa si pengasuh anak itu ? Aku tak percaya.. Lalu dimana sekarang si pengasuh yang berubah menjadi pelacur itu ? Tanyaku. Ia tak datang malam ini ? Atau sudah laku dan pulang ? Ia tadi disini, menjajakan diri, tapi hansip itu menangkapnya, membawanya pada satpol PP yg membawanya pergi entah kemana.
Kurasakan lampu diatas kepalaku menyala semakin terang. Pulanglah anak muda, tak ada penjual rokok jam segini, kata tiang padaku. Lampu diatas kepalaku menjadi semakin terang, pulanglah, pinta tiang, pulanglah, sebentar lagi hansip itu datang kemari dan memukuliku. Aku menepuk tiang listrik dingin itu sekali, menyatakan keprihatinanku, lalu beranjak pergi dari situ, kembali kerumahku. Kau temukan rokokmu anak muda ? Tanya si hansip yg berpapasan denganku, tongkat kayu berputar-putar ditangan kanannya, aku menggeleng lemah. Aku meneruskan langkahku, lalu kudengar suara tiang listrik dipukul oleh tongkat kayu si hansip.. Itu penanda situasi lingkungan aman.
Tang! Aku mendengar suara pukulan itu dan memejamkan mata.
Tang! Pukulan kedua dan aku menghentikan langkahku, ingin kuberbalik dan mencegah si hansip memukuli si tiang listrik itu
Tang! Pukulan ketiga dan aku refleks membalikkan badan, hendak berlari memperingatkan si hansip. Tapi... Oh my.. Ya Tuhan.. BLARRRRRR!!! Lampu diatas tiang itu meledak dahsyat ! Pecah berantakan dengan kilat yg sempurna. Si hansip tak sempat menghindar. Ledakan itu sungguh dahsyat ! Aku membelalakkan mata, mulutku menganga.. Percikan api melesat kemana-mana, terutama diatas kepala si hansip. Dan aku hanya terpaku ditempatku berdiri. Lidahku kaku kelu. Si hansip menjerit-jerit histeris. Rambut dikepalanya menyala-nyala. Wajahnya terhantam pecahan lampu. Si Tiang membalas sakit hatinya. Menggunakan satu-satunya penerang jalan si pengasuh yang sudah tak ada lagi disisinya. Sekarang jalanan itu gelap. Ujung gang itu gelap. Semuanya gelap... Lampu sudah dimatikan. Waktunya untuk tidur teman-teman. :)

No comments: