All I'm writing is just what I feel, that's all. I just keep it almost naked. And probably the words are so bland. Jimi Hendrix
Monday, January 20, 2014
Mencium Sang Pangeran
Nenek meninggal hari ini.
Dan tentu saja aku menangis.
Tidak-tidak, sepertinya akan menjadi kisah drama kelam jika aku mengawalinya dengan kata-kata diatas.
Kakek meninggal hari itu.
Tapi aku tak menangis.
Oh, sama saja. Sial!
Jangan. Aku sedang tak ingin membicarakan kematian. Baru satu paragraph, aku sudah membunuh dua orang. Kakek meninggal disusul Nenek. Maaf ya Nek, maaf ya Kek. Tapi ambil sisi positifnya saja, nenek tak sanggup hidup sendiri tanpa kakek. Keduanya telah hidup bersama sekian lama. Kakek berhasil membuat nenek selalu bahagia. Dan at the end of the day, keduanya kembali bertemu di alam baka.
Kita ulang lagi.
Ini bukan cerita kematian. Tapi kisah tentang bagaimana nenek mendapatkan lelaki yang kemudian mengisi hari-harinya hingga akhir hayat itu tadi. Aku akan menceritakan sebuah kisah tentang nenek disaat muda dulu.
Hampir semua perempuan, termasuk juga nenekku, mengharapkan seorang laki-laki tampan, jago basket, dan menjadi pujaan seluruh siswi. Intinya, semua siswi memimpikan seorang pangeran tampan dari kerajaan bernama sekolahan!
Maka nenekku yang masih muda itu pun menunggu kedatangan sang pangeran. Tapi tiga tahun di sekolah berseragam putih biru terlalui. Dan yang datang hanya pekerjaan rumah yang menumpuk. Kemudian tiga tahun lagi di sekolah berseragam putih abu-abu juga terlampaui. Kali ini yang rajin berkunjung tugas-tugas sekolah. Sang pangeran idaman tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Lalu di tahun-tahun kuliahnya, nenek mulai sering keluar malam.
Klabing kah? Tentu saja tidak. Jaman nenek muda, klabing belum menjamur. Bahkan belum ada diskotik yang buka. Jadi mungkin nonton wayang? Tapi itu dugaan paling absurd, nenek tak mungkin menghabiskan masa muda dengan menonton wayang semalam suntuk.
Nenek selalu tiba dirumah pukul dua dini hari atau menjelang subuh. Dengan alas kaki berlumuran Lumpur. Lain waktu bajunya sangat kotor penuh tanah. Siku-sikunya yang putih bersih mendadak coklat terkena tanah, atau bentol-bentol merah digigit nyamuk nakal.
Kemana perginya nenek?
Itulah yang menjadi misteri besar dan sebuah rahasia yang tak terungkap. Tapi menjelang kematiannya, nenek menceritakan padaku apa yang dilakukannya hampir setiap malam itu.
“Sewaktu nenek muda dulu, nenek keluar di malam hari, terkadang baru pulang pagi hari hanya untuk mencari kodok.” Kata nenek dengan lirih.
“Kodok nek?” tanyaku seraya menatap wajahnya yang berkeriput. Nenek mengangguk.
“Ya, nenek mencari kodok setiap malam.” Jawab nenek.
“Untuk apa nek?” tanyaku penasaran.
“Kodok-kodok itu nenek ciumi satu persatu.” Jawab nenek dengan nada serius.
“Hah?!” seruku. “Nenek serius?” tanyaku lagi semakin penasaran, kali ini dengan wajah sedikit jijik karena membayangkan mencium kodok.
“Kau tahu, ada sebuah dongeng yang mengatakan, jika kau mencium seekor kodok, maka jika kau beruntung, kodok itu akan berubah menjadi seorang pangeran tampan.” Jawab nenek dengan nada yakin dan mata berbinar. Tanpa sadar mulutku membuka, istilahnya terperangah.
“Nenek serius?” tanyaku lagi. Nenek menoleh kearahku. Lalu tersenyum. “Jadi akhirnya nenek beruntung menemukan kodok yang jika dicium bisa berubah menjadi seorang pangeran tampan itu?”
“Ya.” Jawab nenek seraya tersenyum. “Setelah sekian malam pencarian, nenek menemukan kodok itu.”
“Wah!” seruku bergairah. “Lalu nenek mencium kodok itu dan kodoknya berubah menjadi pangeran?”
“Ya, nenek menciumnya.” jawab nenekku, “Tapi kodok itu tidak berubah menjadi seorang pangeran tampan yang sempurna.”
“Hah?! Lalu?!” tanyaku penasaran.
“Kodok itu berubah menjadi seorang badut yang lucu.”
*
Kakek meninggal hari itu.
Tapi aku tak menangis karena melihat nenek tersenyum disebelahku. Mata tua nenek memandangi nisan kakek yang baru saja dipasang. Ada sebaris kalimat yang ditulis nenek dan berbunyi;
“Disini terbaring laki-laki yang telah membuatku tertawa bahagia setiap hari.”
***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment