
Di bulan Desember..
Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi,
di balik awan hitam..
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini,
Menanti..
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda..
Efek rumah kaca- Desember
Aku bertanya, adakah formulir bunuh diri massal tahun 2010? kenapa kamu ingin Mati? Alasannya? Alasan apa yang harus aku tulis? Kenapa mati harus dengan alasan? Apakah kita lahir di dunia juga butuh alasan?
I’m always thinking; life is not a matter of reason, but a matter of choice.
Aku cuma ingin MATI! HIDUP MATI!” Kutulis dengan kasar dan penuh amarah juga rasa kesal. Sekali lagi, mati tak pernah perlu alasan. Sama seperti ketika dia meninggalkanku begitu saja!
Sungguh aku tak dendam. Aku hanya mencari ketenangan. Lelah berlari di antara desingan waktu yang berpendar terlalu lambat. Pelan-pelan ku ambil secarik kertas putih di laci kamar ini, dan kumulai menuliskan surat ini,
Selamat tinggal untuk semua,
Tolong, tulis jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku ini dan letakkan di atas pusaraku bila aku telah terbujur kaku membiru lalu mati. Dengan Tragis!
Cinta itu seperti hujan… Aku tak pernah paham seberapa deras tetes air itu akan terus jatuh dan entah sampai kapan pula hujan itu akan membasahi bumi. Apakah kalian tahu kapan cinta akan datang dan pergi dari hatimu? Jangan tanya aku, karna aku tak pernah tahu. Karena hujan itu masih terus membasahi hatiku tanpa sebuah pesan.
Cinta itu seperti musik… Aku bisa bersenandung lagu yang sama lalu menari dan bergoyang. Tapi kapankah musik cinta itu akan terhenti? Aku tak tahu, karena aku masih terus menari dan bergoyang walau musik cinta itu telah berakhir.
Cinta itu seperti sebatang rokok… Sungguh manis terasa di bibir pada awal sentuhannya, terlena dalam setiap hela hembusannya, tapi semua akan terhenti seketika bila aku tak mampu mempertahankan bara yang tersisa. Apakah kalian tahu bagaimana cara mempertahan nyala cinta seseorang yang kita cintai?
Aku sungguh tak tahu. Aku hanya tahu, cinta itu hanyalah penderitaan yang aku nikmati. Dan aku memilih mengakhiri penderitaan itu. Cintaku akan abadi tapi kematian lebih abadi.
Selamat tinggal semuanya,
Manusia Pengecut.
Mungkin aku adalah manusia pengecut yang takut menghadapi hidup ini! Mengapa hidup ini terasa sangat berat dan beban yang ku pikul seakan tak sanggup lagi untuk ku angkat. Kenapa semua memory ini menghantuiku lagi.. kali ini kebiasaan kehancuranku bukan lagi di bulan september, melainkan menjelang bulan Desember! Memory ini masih sakit, terluka dan kecewa.. akankah kembali terulang?
Menjelang desember tahun ini.. sepertinya aku harus siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang membunuh jiwaku secara perlahan.
Pertanyaan pertama;
“Umur kamu berapa sekarang?”
”
Pertanyaan kedua;
“Punya pacar belum?”
Pertanyaan ketiga;
“Sudah lulus belum?”
Pertanyaan keempat;
“Sudah kerja belum?”
Pertanyaan kelima;
“Kapan menikah?”
Pertanyaan keenam;
“Kapan menikah?”
Pertanyaan ketujuh;
“Kapan menikah?”
Pertanyaan kedelapan;
“Kapan menikah?”
Pertanyaan kesembilan;
“Kapan menikah?”
Dan Pertanyaaan kesepuluh aku yang bertanya kepada diriku sendiri;
"Kapan saya Mati?"
Meski tulisan-tulisanku banyak mengutip dan mengutip lagi.. bagi mereka yang mengetahuinya, tapi semua yang kutulis, benar adanya. Tentang semuanya tentang ketakutanku menjelang bulan Desember tahun ini! petaka apa yang akan kudapati lagi? masih samakah seperti tahun kemarin? atau akan ada sebuah kebahagiaan baru? Atau kah malahan masih datar dan biasa-biasa saja seperti 2-25 tahun sebelumnya? Yang jelas, bisa kah kamu yang merasa mengenal cinta menjawab pertanyaan surat ku ini? sebelum aku menjawab sembilan pertanyaan yang akan terlontar dari mereka dan satu pertanyaan untuk diriku sendiri.
Tetapi aku punya satu permintaan sebelum aku mati,
Aku ingin menonton Placebo 16 February 2010 di Jakarta.
Where's the ticket? Ooh Bollocks.. I don't have it yet. Money.. Money.. Think about it!
No comments:
Post a Comment