Ini pertama kali aku berkunjung ke rumah
gadis itu. Sebelum aku melangkahkan kaki memasuki rumahnya yang mungil,
akan kuceritakan dulu bagaimana aku mengenal gadis itu. Begini, siang
tadi aku menghabiskan jeda makan siang di sebuah restoran. Saat tengah
menikmati makananku, tiba-tiba sebuah kecoa melompat keluar dari mangkuk
sup, tentu saja aku terkejut dan langsung melompat dari tempatku duduk,
dengan geram aku memburu si kecoa yang berlari menyelamatkan diri.
Pelayan pun berlarian memburu si kecoa busuk itu. Pengunjung resto yang
tengah menikmati makan siang mereka tentu saja ikut terganggu dan geram.
Akhirnya, tanpa dikomando, hampir seluruh manusia yang ada di dalam
resto itu memburu si kecoa. Kecuali satu orang, dan tentu saja kalian
sudah menebaknya. Ya, gadis itu.
“Kau takut kecoa?”
Gadis itu menggeleng.
“Kau jijik?”
Ia menggeleng lagi.
Orang-orang di dalam resto masih berlarian kesana-kemari, memburu si kecoa.
“Boleh aku meminta tolong padamu?” Tanya gadis itu padaku.
“Tentu saja, aku akan mengabulkan semua permintaanmu jika engkau mau memberitahu namamu,” jawabku.
Dengan telingaku, aku masih mendengar suara gaduh orang-orang berlarian kesana-kemari, memburu si kecoa.
“Tolong selamatkan kecoa itu dan serahkan padaku.” Pinta si gadis.
“Serahkan padamu?” tanyaku ragu, “Kecoa itu?”
Gadis itu mengangguk. “Serahkan padaku, aku tunggu,” ucapnya lagi, “Nanti aku beritahu namaku.”
Tak perlu bertanya lagi, aku segera melompat dalam kerumunan
orang-orang yang berlarian kesana-kemari, memburu si kecoa. Dan ketika
sebuah kaki beralas sepatu kets hitam, kaki salah satu pelayan sudah
terangkat tinggi dan siap menginjak si kecoa yang terpojok di sudut
ruangan, aku melompat dengan sigap, mengulurkan tangan dengan cepat dan
meraih si kecoa dalam genggamanku. Hup!
Si kecoa selamat. Gadis itu senang dan aku mendapatkan namanya. Nama
gadis itu… ah, aku tak akan memberitahu kalian. Kalian harus menangkap
kecoa dulu jika ingin tahu.
*
“Kau tinggal sendirian?” tanyaku ketika melangkah memasuki ruang tamu
rumah Ri… Ups, hampir saja aku menyebut nama gadis itu. Tak ada foto
keluarga, tak juga terlihat foto laki-laki yang bisa jadi pacar atau
suaminya di ruang tamu itu.
“Tidak,” jawab gadis itu, “Aku tinggal bersama…” gadis itu menatapku,
matanya memberiku kode agar aku mengikutinya. Aku buru-buru mempercepat
langkahku.
“Nenek?” tebakku. Gadis itu menggeleng, matanya memberi perintah agar
aku tak perlu melontarkan tebakan lagi. Ia membuka pintu kamar mandi dan
aku segera menoleh ke dalam…
“Lepaskan kecoa yang kamu genggam itu,” perintah si gadis, dikedua
tangannya terdapat toples kaca yang tutupnya telah ia buka. Aku
buru-buru membuka genggamanku dan kecoa busuk itu melompat ke dalam
toples. Si gadis buru-buru menutup kembali toples yang tutupnya telah
dilubangi demi sirkulasi udara. Dan kalian tak akan percaya apa yang
kulihat, di kamar mandi itu, masih ada puluhan toples lain, berbagai
macam bentuk yang tentu saja berisi… oh my God… bagaimana caranya
membuat kalian percaya, isinya kecoa!
Puluhan kecoa!
Tidak-tidak, jika di tiap toples ada banyak kecoa, bisa jadi ada ribuan, atau ratusan kecoa!
Mendadak aku tak bisa bernafas.
“Kau mau minum?” tanya Ri.. eh gadis itu. Aku mengangguk cepat. Ia
lalu menyelinap ke dapur dan kembali dengan membawa gelas berisi gelas
bening yang mengembun. Aku segera meneguk habis.
“Gadis aneh.” Kataku kemudian, seraya mengembalikan gelas pada gadis itu. “Kau memelihara kecoa?”
Ia tak mengangguk, tak juga menggeleng. Hanya tersenyum. “Suatu
hari,” gadis itu tiba-tiba berkisah, “Saat aku KKN dan harus tinggal di
desa berhari-hari, menginap di rumah penduduk, aku terkejut pada apa
yang kujumpai.”
“Apa?” aku penasaran.
“Aku membuka kamar yang akan menjadi tempatku tidur selama sebulan, dan
kau tahu apa yang menyambutku? Gadis itu menatapku. “Makhluk kecil
dengan dua antenna yang bergerak-gerak dikepalanya.”
“Kecoa.”
Gadis itu mengangguk.
“Uhm, sebenarnya itu aku loh.” Kataku kemudian, “Akulah kecoa yang
selalu menyambutmu.” Tak sempat aku memperhatikan reaksi gadis itu pada
kata-kataku, tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah toples besar dan
mendorongku masuk ke dalam toples, lalu dengan cepat ia memasang
tutupnya.
Dan kamar mandi itu pun penuh dengan kecoa dalam toples. Sang gadis
memunguti kecoa di jalan dan atau yang berhasil diajaknya berkunjung.

No comments:
Post a Comment