Monday, January 21, 2013

Jika Hujan Menangis


Jika Hujan Menangis.

Aku bertemu hujan di tikungan jalan.
Hujan menangis tersedu-sedu. Aku hentikan laju becak yang membawaku pulang dari sekolah, kubuka tirai plastik pelundung dan kuteriakkan tanya padanya, “Hujan, kenapa kau tersedu-sedu begitu?!” Hujan tak menjawab, melirik padaku pun tidak. Kuambil payung dari lantai becak dan kuhampiri ia. “Kenapa kau menangis?” tanyaku setelah dekat, “Apa yang membuatmu bersedih?” tanyaku lagi.

“Orang-orang membenciku.” jawab Hujan tiba-tiba. “Siapa yang membencimu?” tanyaku penasaran. “Orang-orang,” kata Hujan, “Sudah kubilang, orang-orang.” Aku menoleh kesana-kemari. Mencari orang-orang yang disebutnya. Tapi tak ada siapa-siapa. Hanya aku di tikungan jalan itu. Hanya aku yang memegang payung dan hujan yang menangis tersedu-sedu.

“Kenapa kau berpayung?” tanya Hujan padaku, disela sedunya.
“Aku? Kenapa aku berpayung?” kubalik bertanya. Hujan mengangguk, ia menunjuk payung hitam yang gagangnya kupegang erat dengan tangan kanan. “Aku berusaha melindungi kepala dan tubuhku dari…” Aku menghentikan kata-kata jawabanku. Tapi mataku melanjutkan kalimatku… dari hujan.
“Dariku!” teriak Hujan. “Kau berusaha melindungi kepalamu, rambutmu yang rapi, tubuhmu, bajumu yang mahal itu, kakimu, celanamu yang bermerek itu… DARIKU!” Semua orang menghindari. Semua orang mencari perlindungan. Tenda-tenda ditutup, payung-payung dikembangkan. Ketika hujan turun. Sama sepertimu yang bahkan saat berbicara denganku, menggenggam payung.

Astaga, baru saja Betmen memasang jebakan dan aku terjebak begitu saja. Aku menutup payungku dan hujan berjatuhan diatas kepala, basahi rambutku. Minyak rambut mulai luntur bersama tetes hujan yang melaju kencang di dahi, pipi dan bibirku. Hujan kulihat tersenyum. “Kau resmi menjadi temanku!” jerit Hujan histeris seraya berhambur memeluk tubuhku, seketika bajuku basah kuyup, pun dengan celana hingga selangkangan bagian dalam.

“Kenapa anak ibu?” tanya Mantri Kesehatan.
“Sepulang sekolah, dia bermain dengan sahabatnya.” kudengar sayup jawaban ibuku.
“Sahabat seperti apa yang tega membuatnya menggigil karena demam tinggi seperti ini?”
Ibuku menoleh padaku, juga Mantri Kesehatan. Aku mengigau perlahan;
Hujan.. hujan.. hujan.
“Dia menangis ibu.”
“Siapa nak?”
“Hujan.”
“Hujan bisa menangis?” suara Mantri Kesehatan kudengar ikut bertanya, kulirik tangannya tengah mempersiapkan jarum suntik. Lalu kudengar lagi ia bertanya, “Jika hujan menangis, apa yang keluar dari matanya, nak?” Jarum suntik telah siap, pantatku telah diusap kapas basah alkohol.

 “Kepalsuan, atau kejujuran?”

No comments: