Saturday, January 5, 2013

Kebahagiaan Terakhir





Matahari sudah berada di ufuk Barat. Sebentar lagi malam pun tiba. Orang-orang sudah pergi mandi, berdandan rapi, menyemprotkan minyak wangi dan menyerbu para penjual terompet. Sekitar enam jam lagi, tepat tengah malam, pergantian tahun tiba. Orang-orang akan berada di luar rumah dan dengan gegap gempita meniup terompet mereka masing-masing. Tapi, ternyata tidak demikian. Matahari tak pernah benar-benar tergelincir, ia berhenti di bibir senja, seolah berpegangan pada langit dan tak tenggelam.

“Ayah,” puteri kecilku memanggil. Aku pun menoleh padanya. “Ayah ingat nggak janji ayah tahun lalu?” tanyanya, aku pura-pura mengerutkan kening, seolah lupa. Ia pun berusaha mengingatkanku, “Tahun lalu, sebelum tahun baru, ayah berjanji, kalau tahun ini, ayah akan membelikanku sebuah terompet, supaya …”
ia tak melanjutkan kata-katanya karena aku segera mengangguk. “Yuk nak, kita pergi mencari terompet,” kataku kemudian seraya mengangkat karung berisi barang-barang bekas dan menggandeng tangan puteri kecilku yang penuh debu. “Tapi terompet itu,” kataku kemudian seraya berjalan menyusuri trotoar kota, “Harus dibeli dengan uang,” lanjutku kemudian. “Mahal ya Yah, harganya?” tanya anakku dengan suara merdu yang lucu. Aku menggeleng, “Ayah rasa, jika kita berhasil menjual botol dan gelas air mineral bekas yang sudah kita kumpulkan hari ini, uangnya cukup untuk membeli satu terompet, untukmu.” lanjutku, puteri kecilku tersenyum, ia kurasa dari tangannya, serta gerak tubuhnya, terasa sangat bersemangat melangkah.
Dan di sepanjang jalan menuju tempat semua pemulung menjual barang temuan mereka, aku melihat orang-orang berlalu-lalang, mereka sudah melupakan kesibukan harian mereka, sudah melupakan semua kegiatan mengumpulkan uang mereka dan akan membelanjakannya malam ini. Malam Tahun Baru. Sambil terus melangkah, kulihat puteri kecilku menoleh ke arah pedagang terompet yang dikerubungi pembeli. “Ayah, tidak bisakah kita mendatangi penjual terompet itu?” kata puteri kecilku tiba-tiba, “Kan tadi ayah sudah bilang nak,” kataku dengan pelan, “Kita harus menjual dulu barang-barang dalam karung yang ayah bawa ini, nanti setelah jadi uang, baru kita pergi ke tukang terompet,” lanjutku. “Tapi Yah, aku takut nanti terompetnya keburu habis.” ujar puteri kecilku. “Jika itu yang kau takutkan, ayo kita harus bergegas!”
Tapi puteri kecilku melepaskan pegangan tangannya dan ia berlari ke kerumunan orang yang membeli terompet. Ia berdesakan dengan orang-orang. Aku mengejarnya. “Kau mau membeli terompet anak manis?” tanya penjualnya, puteriku mengangguk dan si penjual memberikan sebuah terompet. “Mana uangmu?” si penjual bertanya, “Tunggu sebentar, biarkan aku menjual barang-barang bekas ini dulu, lalu hasilnya akan kubayarkan untukmu,” kataku. Tapi si penjual buru-buru menarik terompet itu dari tangan puteriku, tepat ketika puteriku hendak meniupnya, bibirnya sudah penuh udara, dan terhembus keluar dari bibir mungilnya begitu saja, terompet itu kembali ke tangan si penjual. “Pergi! Pergi!” kata si penjual, “Kembalilah nanti, setelah kau punya uang!” hardiknya. Aku menarik tangan puteri kecilku yang kecewa. “Tak apa-apa nak, ayo kita bergegas,” kataku, dan ia mengangguk. Matahari sore yang panas, menerpa wajah puteriku. Aku menatap matahari itu, berharap ia jangan tergelincir dulu, malam jangan tiba dulu. Ijinkan aku membahagiakan puteri kecilku.
Dengan nafas terengah, aku dan puteriku tiba di tempat pengepulan barang bekas itu, tempat yang biasanya penuh dengan para pemulung yang menjual berbagai barang yang mereka temukan itu, kudapati, sepi. Aku dan puteriku berdiri terpaku di depan gerbang seng yang tertutup rapat. Ada tulisan tertera di kertas karton yang tertempel di gerbang itu; “Buka kembali pada 2 Januari”. Kakiku langsung lemas. “Ada apa Yah?” tanya puteriku yang belum bisa membaca. “Tidak ada apa-apa nak, mungkin orangnya sedang mandi,” aku mendekati gerbang seng dan berusaha mengintip ke dalam. “Permisi!” teriakku dan tak ada jawaban. “Permisiii!” masih tak terdengar jawaban. Puteriku terlihat mulai cemas.
Tapi usahaku sia-sia, tempat pengepulan barang bekas itu telah tutup. Tak ada satu pun orang disana. Tak satu pun. “Nak, ayah minta maaf,” kataku kemudian, setelah berbagai upaya untuk mencari juragan barang bekas sia-sia. Puteri kecilku tersenyum, “Tidak apa-apa Yah, masih ada tahun depan, dan tahun depannya lagi.” Aku menatap puteriku, mencium keningnya dan kembali melangkah bersamanya.
Berdua, bergandeng tangan, kami melangkah menyusuri jalanan yang ramai. Orang berlalu-lalang di trotoar, motor berseliweran, mobil merambat pelan. Jalanan sungguh penuh oleh kemeriahan. Dan mata anakku, kudapati selalu nanar saat melihat anak-anak kecil, menggenggam terompet. Jika tahun, malam nanti berganti baru, akankah hidupku, atau setidaknya hidup anakku, menjadi baru? Atau kami tetap mengais barang bekas di tempat-tempat sampah?
Kurasa, matahari tak lagi menyengat, hari beranjak sore. Aku menuju halte bus tempatku dan anakku biasa berteduh, tapi halte itu penuh dengan orang-orang yang hendak bepergian dan menunggu angkutan kota. Aku pun membawa anakku pergi ke kolong jembatan, tapi tempat itu pun penuh dengan aparat yang mengawasi laju aliran sungai. Juga deru alat berat yang mengangkat sampah-sampah. Agar saat malam tahun baru hujan, sungai tetap lancar dan tak terjadi banjir di istana. Kini aku kebingungan. Puteri kecilku sudah lelah dan tak ada tempat untuk beristirahat, semua orang keluar rumah untuk menyambut tahun baru!
Akhirnya aku bersembunyi di dalam gardu listrik. Puteri kecilku sudah terlelap. Karungku yang penuh menjadi pengganjal kepalanya. Aku mengelus-elus rambutnya dengan mesra, seraya mencoba memejamkan mata. Deru keramaian di jalanan, tak bisa menutupi kegelisahan hatiku, menatap masa depan. Masa depanku, dan puteriku. Wajahnya yang lugu, tak memancarkan rasa kecewa karena tak jadi memiliki terompet tahun baru. Tapi aku, ayahnya tahu, puteri kecilku mungkin satu-satunya yang bersedih malam tahun baru ini.
Tapi ternyata, gelisah bukan punyaku seorang.
Orang-orang di jalanan pun sudah gelisah. Semua duduk di tepian jalan, bersandar pada pepohonan, atau berbaring di rerumputan. Semua menunggu matahari terbenam dengan gelisah, agar pesta malam pergantian tahun bisa dilaksanakan. Sejam, dua jam, tiga jam, empat jam pun berlalu dan orang-orang mulai lelah menunggu.
“Bagaimana ini?” tanya sebuah suara. “Malam tak jadi datang, Tahun Baru batal digelar.” suara itu melanjutkan. Suara-suara mulai terdengar, kasak-kusuk. Acara malam pergantian tahun pun dibatalkan, Presiden muncul di televisi. “Saya sudah perintahkan menteri sekretaris negara untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi, saya prihatin Tahun Baru tak jadi datang,” kata Presiden, mimiknya sedih dan menderita, “Padahal saya sudah siapkan sebuah lagu baru..”
Di berbagai tempat, para penyelenggara memanggil artis-artis tenar mereka dan memberitahu bahwa acara yang sedianya digelar, batal dilaksanakan. Para penyanyi mulai memasukkan mikropon mereka ke kotaknya, gitar-gitar kembali ke case-nya. Kabel-kabel di gulung. Kursi-kursi di lipat dan panggung-panggung dibongkar kembali.
Matahari masih tergantung di mulut senja. Dan orang-orang semakin resah. “Terompet ini bagaimana sekarang?” tanya sebuah suara. “Kita kembalikan saja kalau begitu!” sahut yang lain. “Ya, ya! Kita kembalikan saja, mana penjualnya?” dan orang-orang mulai mencari, di mana penjual terompet berada, tapi tak satu pun terlihat. Putus asa, orang-orang itu mulai membuang terompet-terompet tahun baru itu ke jalanan. Begitu saja. Lalu pulang dengan murung dan kecewa.
Mula-mula satu terompet. Dua terompet. Tiga terompet. Empat terompet. Seratus terompet. Dua ratus satu terompet. Tiga ratus terompet. Hingga ribuan terompet berserak, menggunung di jalanan.
*
“Ayah!” sayup-sayup aku mendengar suara puteri kecilku memanggil. “Ayah!” dan aku membuka mata, perlahan. “Ada apa nak? Kamu lapar? Maafkan ayah ketiduran,” kataku seraya mengumpulkan kesadaran. “Ayah, lihat di luar ayah!” wajah puteri kecilku berseri-seri, tak memancarkan rasa lapar dan sedih. “Ayo bangun dan keluar!” ia menarik-narik baju lusuhku. Jam berapa ini? Sudah tibakah saat pergantian tahun? Perlahan aku berdiri dan melangkah keluar dari dalam gardu listrik itu.
Matahari masih berada di ufuk barat. Sesaat lagi tergelincir dan gelap. Tunggu! Bukankah sebelum aku masuk ke dalam gardu listrik tadi, matahari sudah akan tenggelam? Berapa lama aku tertidur? Apa sekejap? Matahari itu kenapa masih berada di tempatnya? Dan, tunggu! Aku terperangah melihat pemandangan di hadapanku.
Anakku, mana anakku? Ia menghilang dari sampingku! “Ayah, lihat!” aku menoleh, dan kulihat puteri kecilku, berdiri di atas bukit kecil yang terbuat dari terompet. Ada sebuah terompet tahun baru dalam genggam tangan mungilnya. “Bunyikan nak, coba tiup!” teriakku. Puteri kecilku mengangguk, dan ia mendekatkan ujung terompet ke bibirnya.
“TEEEEEEETTTT!”
Aku memejamkan mata, mendengar suara terompet dari bibir kecil puteriku itu. Ada bahagia dalam dadaku. Puteri kecilku menari-nari di atas bukit terompet, sesekali ia meniup terompet dalam genggamannya. Puteri kecil yang bahagia. Matahari terakhir tahun itu pun tersenyum, lalu bergerak perlahan, pergi dengan ikhlas, tenggelam di ufuk Barat.

No comments: