Tuesday, June 14, 2011

Anda ada di level berapa ?

Menurut readers? Apakah Bangga dan Sombong mempunyai unsur yang saling terkait ?

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, kita sebagai makluk hidup yang paling sempurna yang disebut manusia. Benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Sombong disini mencakupi Tiga Level dari yang mudah terdeteksi maupun yang tidak.
Level terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Mungkin karna kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Level kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Mungkin karna kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Lalu Di Level ketiga, sombong disebabkan oleh faktor suatu hal yaitu kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, lebih baik, dan jauh lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, pasti semakin sulit pula anda mendeteksinya. Sombong karena materi sangat lah mudah untuk terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, mereka sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita yang tanpa kita sadari memiliki satu cerita di dalam goresan kehidupan.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah menurut toeri Psikologi Komunikasi, Sebuah ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini tiba tiba berubah menjadi kebanggaan (pride) dengan adanya suatu hasil yang diperoleh, Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong adalah samar, buram, tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dan memiliki dari dua kutub, yaitu di satu kutub adalah EGO dan kesadaran sejati yang ada di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu yang berjalan, kita mulai memupuk berbagai keinginan, mimpi, tujuan hidup yang lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi dan lagi, tak akan pernah merasa puas. Rakus namun itulah manusia, Manusiawi.

Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme keserakahan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Ini adalah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju apa yang dinamakan kesadaran sejati yakni tetangga dari kutub EGO.

Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita semua adalah manusia yang sama dimata tuhan dan kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sebagai media untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan hampa, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan hampa, tidak membawa apa apa.

Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesejajaran yang universal. Kita tidak akan lagi dibohongi oleh penampilan, label, merk, dan segala yang "tampak luar" lainnya. Yang harus kita lihat adalah "tampak dalam".

Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai partikel partikel kesombongan atau sebuah konsep ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apapun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dan semua agama pasti mengajarkan kita untuk ikhlas, meski ikhlas itu sulit.

Dalam hidup ini pasti berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah habis, berakhir lalu musnah. Karna sebuah energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk sesuatu yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun suatu kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat, perbuatan baik kepada orang lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.

Kalau begitu, apa yang harus kita sombongkan dan ngapain juga harus sombong ?
lalu jika anda termasuk 3 level tadi, anda ada di level berapa ?

No comments: